Selasa, 14 Oktober 2014

It always been you.



Senja kali ini ku nikmati tanpa segelas coffee dan tanpa kau bersamaku. Senja kadang hadir dengan jingga, kadang biru gelap membayangi. Sudah 2 kali senja bergelincir kunikmati dengan senyum senyum di taman kampus yang akhirnya bisa ku raih sesuai impianku.
Bukan.. bukan karenamu.
Lelaki itu sebabnya.
Sepertinya dia sudah menjadi bagian yang sering aku lamunkan.
Menikmati diri hanya menjadi seorang secret admirer memang sudah mendarah daging di tubuhku.
Aku bertemu dengan nya, kemarin.
Waktu itu aku tidak sengaja menumpahkan minuman nya, kalau tidak salah secangkir coklat hangat kesukaannya yang selalu ada di genggamannya tiap kali aku bertemu dia. Insiden kecil di trotoar taman itu lah yang membuatku untuk pertama kalinya bertegur sapa.


"Yaampun sorry sorry. aku terlalu buru buru"
"eh iya ga....."
 "oke biar aku ganti yaa, maaf banget"
"eh gak usah aku bisa beli lagi. gapapa"
"gabisa gitu dong, kan aku yang....."
"Stttt lagian belinya disitu, ga jauh kan, beneran gapapa. aku tau kamu ga sengaja"

Sungguh menyebalkan menjadi mahasiswi seperti ini, baru semester pertama aku sudah di suguhi segudang tugas. sore ini aku (terpaksa) menikmati wi-fi gratis yang di sediakan kampus demi tugas tugas yang secepat mungkin harus ku selesaikan. Aku memperhatikan sekelilingku kedengaran nya memang seperti hanya ada aku dan semilir angin pohon rindang ini padahal bisa di hitung kira kira ada puluhan mahasiswa yang bernasib sama denganku, tapi inilah jaman ketika gadget mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, semua hanya sibuk memandangi layar layar bisu di hadapan nya, sama seperti aku. Sesekali aku mengalihkan pandanganku ke seseorang di sudut sana, dan kami saling melemparkan senyum simpul. Aku tau dia tapi tidak mengenalnya begitu juga dia.

Kalian tau apa yang bisa membuat detak jantung berdetak kencang, it's when you stare at him and you know that he is staring at you at the same time. Whoaaaa. it's like OMG!
Aku mencoba bercuri pandang dengan mahasiswa fakultas olahraga itu, tapi bagaimana jika aku tau ternyata dia sedang menatapku dan dia dalam keadaan tidak tau jika aku menangkap basah tingkahnya itu. Ketika dia sadar, dia langsung mengalihkan pandangannya ke buku yang di genggamnya, sementara aku purapura menyimak buku sambil menahan tawa. It's called the awkward moment.


Sebenarnya ini bukan yang pertama aku menatap nya diam diam, aku telah menggeluti hal ini sejak pertama kali aku dan dia memijakkan kaki di kampus ini. Itu menyenangkan ketika aku bisa mengamati seseorang secara diam diam, like a detective.
Aku menyukainya? tidak.
It's love at first sight, isn't it? No.
Aku suka mengamatinya,melihatnya karena tiap aku melihat sosoknya seperti ada suatu kejanggalan di fikiran ku. Sepertinya yang ada di fikiranku bukan dia yang ku lihat nyata. mungkin karena dia kebetulan mahasiswa dari fakultas yang sama dengan seseorang yang kufikirkan. Sehingga aku terbawa imaji ku yang tak pernah henti berkata 'Dia selalu mengingatkanku denganmu'.






0 komentar:

Posting Komentar