Kita mungkin bisa ikut larut sedih dalam turunnya hujan, mendengar suara rintiknya di backsound-i lagu-lagu melow, sendu, atau meratapi kisah cinta yang kandas dengan berteriak mengikuti lirik lagu-lagu patah hati atau mungkin meresapi lagu di bawah shower sambil menatap nanar langit-langit kamar mandi dengan di hujani pertanyaan "kenapa?" "kenapa ya..?" "andai saja.."
Tapi ternyata ada hal yang sebenernya lebih penting buat kita resapi, mungkin kalian bisa saja tidak sepemikiran denganku. kalian harus tau, saat senja mulai tenggelam di hari spesial umat muslim. Hal itu mulai terdengar lebih dan paling bisa membuat 'rasa kehilangan' beberapa orang menjadi sangat terasa.
Bagi sebagian dari kalian bersuka cita menyambut malam dimana lafadz takbir itu di kumandangkan, beberapa yang lain merayakannya dengan jalan-jalan bersama keluarga, teman dan sahabat.
Don't ask me, please.
2 tahun belakangan ini aku memang memilih berdiam di kamar, kehilangan mama memang membuat suara gema takbir begitu menyesakkan dada, apalagi yang bisa kulakukan kalau sudah dalam titik 'kangen' seperti ini, selain menuai rindu di dalam doa bersamanya, mengirimkan nya doa, mamandangi foto usang kami berdua.
Awal aku kehilangannya, aku tak pernah yakin bisa melanjutkan hidupku tanpa wanita paling kucintai di semesta ini. Bagaimana mungkin? Aku itu gadisnya yang paling manja. Semua yang aku lakuin bergantung pada mama, mama itu merangkup semuanya, dia sahabat yang paling setia. Dan tibalah hari paling mengejutkan, ketika aku benar-benar harus mandiri tanpa beliau, hingga saat ini kalimat-kalimat yang terlontar pada hari yang paling menyakitkan itu masih terngiang di kepalaku. Ketika aku memeluk papa dengan erat, aku menangis sajadi-jadinya di bahu papa "Pa, mama udah pergi, gak ada lagi mama adek" yang lebih sakit saat tante bilang "Jangan pergi kemana-mana satu hari ini deket mama kamu aja ya, cium mama, dia bukan pergi kerja yang sorenya bakal pulang dek, mama gak akan balik-balik lagi". Aku sempat berfikir 'Andai saja aku tau malam itu yang terakhir, aku tak akan memilih tidur, aku akan menikmati seluruh jam tidurku dengan berada disamping beliau hingga detik terakhir kepergiannya'.
Saat itu aku memang belum sadar dan percaya . Yang aku tau aku telah kehilangan semangat hidupku.
2013.. Lebaran pertama tanpa keluarga yang utuh, kami menyambutnya dengan mengumandangkan takbir bersama di ruang sholat apalagi jika tidak di temani airmata.
2014.. Lebaran kedua. Aku sambut dengan bertakbir sendirian karena semua telah beda, aku seperti tlah kehilangan 2 figur di hidup ini, aku terus meyakinkan diri bisa menghadapi kenyataan yang sekarang meski aku juga tau sebenernya aku sudah lelah.
Melihat mereka yang menyianyiakan waktu yang di beri Tuhan bersama ibunya, aku seperti ingin berteriak 'kalian harusnya lebih bersyukur,karena aku pernah menyesal sibuk dengan hidupku tanpa memikirkan ibuku'
Melihat mereka yang masih bisa melewati masa remajanya dengan ibu di samping mereka, aku bergumam dalam hati 'enak ya kamu, bisa foto bareng, bisa bercanda sama ibumu, masih bisa ngerasain dimanja'
Manusia takkan merasa benar-benar menyesal sebelum mereka merasakan kehilangan.
Aku sering tersenyum ironis saat mendengar keluhan teman-temanku tentang ibu nya 'ibuku tau nya marah terus' 'aku ngelakuin ini itu salah' 'ibuku tuh... blablabla'
Andai mereka tau, saat mereka mengeluh ini itu, ada yang berharap bisa bertukar posisi menjadi mereka. Bukannya aku dulu gak pernah ngeluh gitu tapi aku sekarang tau apa itu artinya ibu saat benar-benar kehilangan. Semua hilang, bahkan omelan yang paling buat aku kesal pun menjadi yang paling di rindukan. Ketika dulunya di larang-larang kini menjadi rindu di larang ini itu karena tidak di pedulikan. Ketika dulunya leler tapi semua masih akan selalu tersusun rapi.
Itu alasan kenapa gema takbir menjadi hal yang paling menyesakkan, karena banyak memori yang membuat rindu semakin meledak di balik gemanya.
P.S: Kiss and hug from here, i miss you so damn much.
Sincerely, your little girl.

.jpg)

0 komentar:
Posting Komentar